Itulah Pelangi…
Tak terasa setengah bulan sudah berlalu dari launching bukuku yang kedua : “Sejuta Pelangi “, dan beribu hamdallah aku panjatkan dalam syukur. Tak pernah menyangka antusias dari sahabat, yang terkadang membuat aku menititkkan air mata jika mengingatknya. Teman-teman di Indonesia, Makkah, Jeddah, Kelantan- Malaysia, dan dibelahan bumi lainnya yang Alhamdulillah Allah bisa mempertemukan kita meski hanya melalui sebuah buku.
aku yakin, banyak buku yang lebih baik dari bukuku. Sementara buku yang kutulis itu sangat sederhana, aku menuliskan apa adanya, kisah-kisah sederhana, hanya tentang seorang anak seperti Fikri misalnya, kesederhanaan seorang Emak, kegigihan prof.Hilmi, semangatnya mba Gita…, cita-cita Rofifah yang terus menyala… hhh…mengingat perjalanan menulis buku, membuatku senyum-senyum sendiri.
Sejuta pelangi memang berbeda dengan Melukis Pelangi. Pada buku pertamaku, Melukis Pelangi, aku tidak terlalu kesulitan karena banyak yang telah aku rekam di buku harian. Ya.. kesulitannya paling hanya membongkar kardus diatas lemari, kemudian membaca catatan-catatan lama tersebut mulai dari tulisannya yang kaya ceker ayam, sampai yang tulisannya sudah mendingan tapi tetep juga masih seperti ceker ayam. Hehe..
Di buku pertama, aku banyak dibantu oleh teman-teman penulis, salah satunya adalah Kang Abik, yang saat itu sehari-hari sering kutemui di lokasi syuting. belajar dari awal, bagaimana merangkai kata. Ingat sekali kang Abik pertama kali mengomentari tulisan saya begini : “membaca tulisan kamu seperti membaca tulisan pelajaran mengarang anak SD”.
WOW! Kebayang dong kalo teman-teman lagi semangat nulis tiba-tiba dikomentarin seperti itu. Saat itu kami sedang berada di tepi kolam renang apartement, saking malunya, rasanya aku ingin terjun saja ke kolam renang itu :)
Sempat ada pikiran ingin mundur saja waktu itu, tapi atas semangat dari sahabat dan keluarga, akhirnya saya menelan bulat-bulat komentar kang abik tersebut dengan ikhlas, dan saya berjanji pada beliau akan kembali memberi naskah dan merevisi lebih baik lagi. Selang sebulan kemudian, kang Abik akhirnya membubuhkan sebuah komentar yang membuat saya membuang nafas lega.”Oki bukan hanya pintar akting, tapi juga pandai menulis” kata kang Abik yang terpajang di cover buku Melukis Pelangi. Alhamdulillah buku Melukis Pelangi kini masuk ke posisi national best seller dan telah mengalami cetak ulang yang ke- 7 dalam jangka waktu kurang dari satu tahun.
Selang setahun, buku kedua pun terbit : Sejuta Pelangi. Buku ini ditulis di tengah kesibukan tugas akhir kuliah, sudah beberapa kali buku ini tertunda karena aku harus memprioritaskan akademik agar tidak terlambat lulus lagi (aku sempat terlambat lulus karena cuti untuk syuting KCB di Cairo waktu itu). Akhir Desember 2011, dua kabar bahagia aku dapatkan sekaligus. Yang pertama, keputusan dari Universitas yang menyatakan kelulusan saya, yang kedua : keputusan dari penerbit bahwa buku saya layak diterbitkan. Alhamdulillah.. beribu syukur terucap dalam hati
Buku kedua ini sangat sederhana, yang istimewa adalah orang-orang yang kutulis disana. Karena mereka lah.. aku termotivasi untuk menulis, membagikan kisah dan hikmah yang kudapatkan untuk semua pembaca.
Begitulah, perjalananku sebagai penulis pemula, yang masih merangkak tertatih belajar, kadang bad mood, kadang ‘mandeg’ kehabisan kata-kata, berbagi waktu dengan akademik, begadang menahan kantuk. Apa yang kualami, tentu pernah dialami juga oleh sahabat semuanya..
Satu hal yang pasti..jangan pernah berhenti. Apalagi berbalik. Jika kita berada dalam jalan yang benar, sudah fitrahnya akan banyak sekali halangan yang membuat kita ingin mundur. Terus melangkahlah, lurus kedepan.. karena diujung sana, bisa jadi sesuatu yang indah telah menunggu kita, itulah Pelangi :)
Semoga kedua bukuku bisa memberi manfaat untuk sahabat sekalian…
***
PS: InsyaAllah sebentar lagi akan merampungkan buku ke -3 mengenai pengalamanku ketika tinggal di Makkah selama sebulan. Mohon do’a ya…
27 Maret 2012
Add a comment
Muslimah, yuk Jangan Galau! ;) #part2
Bagaimana kabar sahabat semuanya? Semoga senantiasa selalu dalam keadaan hati yang tenang, bahagia, selalu dalam dzikir kepada Allah. Penuh semangat, dan jauh dari rasa galau tentunya.
Lama tidak menulis, hampir saja aku lupa melanjutkan tulisan yang kemarin. Yaitu, tentang tips anti galau :) terima kasih atas komentar dan kesetian sahabat semua untuk tetap berkunjung di web ini.
Setelah kemarin mengulas sedikit tentang do’a ampuh yang diajarkan Rasul untuk mengobati perasaan galau (baca ulang disini) tentu juga butuh tindakan nyata dari diri kita agar tidak terus terperangkap dalam jurang syaitan tersebut. Betul kata komentar dari sahabat di tulisan kemarin, bahwa do’a saja tidak cukup, keluar dari jurang syaitan itu butuh butuh kesungguhan dari hati dan perbuatan.
Kalau dicerna lebih jauh, galau adalah salah satu penyakit hati. Sebuah kondisi dimana hati kita sedang kosong, kemudian terisi oleh entah apa namanya, hingga rasanya pun bercampur aduk, bahkan si pelakunya pun bisa tidak mengerti ia sedang kenapa? Parahnya lagi, galau yang sebenarnya penyakit hati akut itu, sudah menjadi budaya.
Sehingga ketika seseorang mengalami pada titik tersebut, ia bukannya bangkit dan menghindar, bisa saja malah makin menikmati ; mengunci diri di kamar, menyetel musik-musik yang semakin menambah suasana, uring-uringan di kasur, seandainya melakukan aktivitas ia hanya melakukan update status yang terus-terusan dengan tema yang sama.. (hayo.. siapa yang pernah begitu?)
Sebuah nasihat mengatakan, hati kita ini tidak pernah kosong, kalau ia tidak diisi dengan keta’atan, berarti di dalamnya ada kemaksiatan. Berarti, kita sebagai manusia hanya memiliki dua pilihan ; mau dalam keadaan taat, atau mau maksiat. Tidak bisa istirahat, tidak bisa diam, karena syaitan pun tidak pernah beristirahat, tidak pernah cuti, untuk mengajak kita mengikut jalannya menjadi penghuni neraka di akhirat kelak (naudzubillah…)
Lalu, orang yang galau itu sedang dalam keadaan taat atau maksiat ? nah.. pertanyaan yang ini tentu kita sudah bisa menjawab sendiri.
Yang pasti, tidak mungkin ada gelisah jika kita mengingat Allah. Tidak mungkin ada sedih jika kita dekat dengan Allah. Untuk itulah maka kita perlu sebuah tindak nyata, untuk selalu menyibukkan diri agar senantiasa dalam dzikir kepada Allah.
Jangan bayangkan kita harus senantiasa di dalam masjid terus-terusan, mengingat Allah itu luas maknanya, islam adalah agama yang syamil, yang menyeluruh ke seluruh aspek kehidupan. Sibukkan diri dengan segala hal yang positif, niatkan selalu dengan bismillah, Insya allah hari-harimu akan jauh dari galau :)
Ada tips yang mudah-mudahan bisa digunakan juga untuk sahabat semua : ...
Add a comment
Muslimah, Yuk Jangan Galau! ;) (bagian 1Wednesday, 06 Rabi'ul Akhir 1433
Last Updated ( Wednesday, 06 Rabi'ul Akhir 1433 12:41 ) Profile
|
Latest Article
- Terima Kasih Telah Mengajarkan Semangat
- Itulah Pelangi…
- Muslimah, yuk Jangan Galau! ;) #part2
- Muslimah, Yuk Jangan Galau! ;) (bagian 1
- Agenda OSD Maret 2012
- Meminta dan Memberi Maaf
- Engkau Habiskan Dengan Apa Masa Mudamu?
- Catatan Perjalanan di Kota Palu
- Bersegeralah Melakukan Kebaikan
- Baiti Jannati
- Kesaksian iblis
- Pernahkah kau merasa begitu rindu pada Allah?
- Pesantren Jiwa 2
- Puisi Berbagi
- Ridho Allah Ridho Orang Tua
- Pengaruh Sahabat
- Kami Mencintai-Mu Allah
- Mengubah Prahara Menjadi Pahala
- Hati Sekeras Batu
- Beginilah Cara Allah Mengajariku
Popular Article
- Muslimah, Yuk Jangan Galau! ;) (bagian 1
- Beginilah Cara Allah Mengajariku
- Resensi Buku & Film
- Agenda OSD Maret 2012
- Engkau Habiskan Dengan Apa Masa Mudamu?
- Pernahkah kau merasa begitu rindu pada Allah?
- Meminta dan Memberi Maaf
- Ridho Allah Ridho Orang Tua
- Catatan Perjalanan di Kota Palu
- Mengubah Prahara Menjadi Pahala
- Baiti Jannati
- Kesaksian iblis
- Hati Sekeras Batu
- Pengaruh Sahabat
- Kami Mencintai-Mu Allah
- Puisi Berbagi
- Bersegeralah Melakukan Kebaikan
- Pesantren Jiwa 2
- Muslimah, yuk Jangan Galau! ;) #part2
- Itulah Pelangi…



Sebuah sms yang membuat alisku berkenyut singgah di di layar handphone-ku. Isinya hanya tiga jenis huruf : “Okiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…..”
Oki Setiana Dewi adalah seorang aktris muslimah Indonesia yang lahir di kota Batam, 13 Januari 1989. Gadis berusia 23 tahun ini, tak hanya dikenal sebagai seorang aktris, tapi juga seorang guru dan penulis. Sejak duduk di bangku SMA, gadis yang baru saja menggondol gelar sarjananya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia telah menjadi guru mengaji bagi anak-anak dan ibu-ibu hingga sekarang. Ketika break shooting, ia mengajar di TPA (Taman Pendidikan AlQur’an) bagi anak-anak tetangganya. Bersama sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam OSD Friends (Oki Setiana Dewi Friends) ia juga memiliki agenda pekanan untuk mengajar mengaji bagi para narapidana di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Wanita Tangerang.
Sejuta Pelangi merupakan karyanya yang kedua setelah buku best seller pertamanya yang berjudul Melukis Pelangi. Buku perdananya yang berisi memoar hidupnya mendulang sukses di pasaran. Undangan bedah buku pun berdatangan dari berbagai tempat. Prestasi yang diperolehnya baik akademik maupun nonakademik menginspirasi banyak remaja sehingga membuatnya juga sering sekali diundang sebagai pembicara di berbagai sekolah dan kampus di Indonesia maupun negara tetangga.